MENELISIK ARTI KEMERDEKAAN

7 Agustus 2009

JANGAN HAPUS MERAH PUTIHKU…

Diarsipkan di bawah: Ajang Blog detik Merah Putih Indonesiaku — dem0n @ 17:32

merah-putih_demon_mulyono1

Salam merdeka untuk indonesiaku….kecintaanku padamu tak akan pernah    luntur, menyatu kedalam darahku dan merasuk ke dalam sumsum   tulangku…sampai kapanpun…

Tentang Nasionalisme
——————————–
Ini kisah saya alami pada waktu saya masih duduk di bangku SMP kelas satu, tahun 1997.  Saya bukan anak mantan tentara perang atau jenderal besar, tapi saya hanya anak seorang petani padi, yang nota bene mayoritas di tempat saya, tapi yang namanya nasionalisme tidak memandang status, termasuk saya dan warga setempat, nasionalismenya sangat besar terhadap negara tercinta ini. Terbukti pada saat menjelang hari proklamasi, masyarakat dengan antusias memupuk rasa nasionlaismenya itu dengan mengadakan lomba-lomba yang mengandung unsur perjuangan. Mulai dari lomba makan krupuk hingga panjat pinang semua ada, dan itu kompak di lakukan oleh satu kelurahan yang terdiri dari 4 dusun.  Yang nantinya akan memperebutkan hadiah2 dari panitia 17-an. Pengumuman pemenang lombapun di kemas sedemikian rupa, yaitu di umumin di sela2 hiburan ‘”dangdutan” di malam 17-an, sehingga yang “Namanya” di panggil dan naik kedalam pentas/ panggung menjadi kebanggaan tersendiri, selain numpang populer juga dapat hadiah pula, wah siiip lah pokoknya….he3x

Karnaval 17-an (Antara Budaya dan Nasionalisme)
————————————————————————-
Yang lebih menyita perhatian adalah adanya ” karnaval 17-an” yang di gelar pas hari H-nya yaitu tanggal 17 agustus. Mungkin sama seperti karnaval2 pada umumnya, karnaval di tempat saya juga gak kalah unik, bahkan masyarakat nyaris tidak ada yang melewatkan acara pesta rakyat ini, terbukti dengan
membludaknya penonton, udah kaya nonton Formula-1 saja. he3x…di karnaval ini, hasil karya seni bertema kemerdekaan di tampilkan mulai dari teatrikal pidato proklamasi mirip soekarno, berdandan ala pahlawan revolusi, dan ada juga bendera merah putih yang panjangnya hampir 50 meter, dan burung garuda jumbo dari kertas semenpun tidak mau ketinggalan. Dan semuanya itu di kemas dengan apik dan menyerupai aslinya, sampai2 ada warga yang tak mengenali anggota keluarganya menjadi salah satu pahlawan revolusi di ajang karnaval tersebut.

barongan3

“Barongan Kurang  Galak”
————————————-
Uniknya lagi, Di sela2 longmarh karnaval (jalan santai) ada ulah jail sang “Barongan galak” (orang yang memakai topeng kertas  yang menyeramkan) “galak” (jahat) yang mengejar peserta bahkan penonton yang menurutnya di anggap tidak tertib, misalnya tidak memakai atribut merah putih, atau tidak membawa bendera plastik kecil yang telah di bagi2kan oleh panitia sebelumnya,
“Barongan galak” ini memang sangat di takuti oleh penonton, selain face-nya yang menyeramkan, terkadang memang bringas. Kadang2 malah membuat penonton terkencing2 di kejarnya, bahkan ada  penonton juga yang sengaja meledek para ” barongan galak” ini, jika di dalam longmarh tidak mengejar penonton yang “melanggar”,  dan penontonpun sambil mengejek dan meneriakkan jargon “barongan kurang galak 2x “ (barongan kurang jahat 2x)…sontak begitu mendengar ledekan itu, sang baronganpun menunjukan “kegalakanya” dengan mengejar penonton yang mengejek  tersebut, malah ada yang nyaris pingsan saking ketakutan, huh…dasar barongan…..ga tau orang takut apa…

Jangan Hapus Merah Putihku
——————————————-
Di tengah semaraknya warga memeriahkan 17-an, saya bersama siswa SLTP  yang lain pun tidak ketinggalan, tempat di mana saya sekolah emang udah jadi langganan mengiringi jalanya longmarh dengan marching band, selain itu ada juga juga yang menjadi komandan regu pengatur barisan. di antaranya saya. Walaupun bukan komandan regu satu2nya, tapi persaan bangga dan semangat juang tinggi saya rasakan pada saat itu. di samping itu saya juga berdandan ala “pejuang merah putih”, dengan membawa bambu runcing di tangan kanan saya, dan mengecat wajah saya hingga memenuhi muka, dengan warna merah putih tentunya. wah… serasa bener2 jadi pejuang sungguhan.

Setelah karnaval 17-an selesai yang hampir 9 jam itu, akupun bergegas pulang, dengan masih dandanan ala pejuang tadi, tak terasa lelah sedikitpun aku rasakan, bahkan saya merasa hari itu cepet banget.  Sesampainya di rumah, ibu saya tersenyum melihat dandanan saya yang masih melekat. trus ibu saya nyuruh saya mandi

Ibu : ” Mandi sana le”(panggilan untuk anak cowok-jawa), “jangan lupa

mukanya di kasih tiner agar catnya bisa hilang “, suruh ibu saya. ”
Saya: ” Ya buk, ni juga mau mandi tapi merah putih di wajahku tidak akan

saya   hapus, kecuali luntur dengan sendirinya”

Jawabku datar sambil    bergegas mandi, setelah keluar dari kamar mandi, ibu saya terpaku sebentar sambil melihat kembali wajah saya yang belum
juga hilang cat warna merah putih  tersebut
Ibu : “lho..itu muka kok belum di hapus gimana..??? nanti kamu di buat ejekan temen2mu lho…”

Saya: ” Maaf Bu, Saya tadi kan udah bilang, merah putih ni takan ku hapus, kecuali

luntur dengan sendirinya” jawabku datar

Setelah saya keluardari pintu rumah dan bersosialisasi dengan temen2, omongan ibu terbukti, temen2 saya agak sedikit ngledek

Temen: ” lho ini kan 17-an dah selesai, kenapa muka masih compang camping  gitu..????”, ledek temen di ikuti tawa temen2 yg lain.

Rupanya semangat nasionalisme di hati saya tidak hilang begitu saja, seiring 17-an berlalu,…akhirnya 2 hari kemuadian sekolah masuk, setelah libur 2 hari. Malam sebelum paginya saya berangkat sekolah, ada tragedi di muka saya, merah putihku luntur, dan waktu saya bercermin bahkan merah putih itu nyaris hilang, hanya tinggal sisa yang masih menempel, tanpa dosa kakak saya
nyloteh,

Kakak : ” ya hilang lah dik, orang di usap pake tiner sama ibu semalem ” rupanya ibu saya menghapus merah putih di wajahku pake tiner pada saat saya tertidur pulas. Sontak saja saya nangis, karena saya tidak rela merah putih di wajahku di hapus.
terlihat kakaku tersenyum dan ibuku mendekati saya dengan kasih sayangnya, sambil merangkul pundakku, kemudian dia berkata

Ibu : ” Le, saya tahu kamu cinta merah putih, dan ibukpun mendukung akan hal itu” akan tetapi kamu kan harus berangkat sekolah pagi ini, kalo kamu berdandan kayak gini, yang ada kamu jadi bahan ledekan temen2″  kemudaian saya terdiam sejenak,sambil mengusap air mata, yang msih jatuh, lalu ibu melanjutkan percakapan

Ibu: ” mengisi kemerdekaan itu tidak harus berdandan ala merah putih saja, atau bergaya ala pahlawan revolusi, tetapi banyak cara untuk mengisi kemerdekaan itu. sebagai seorang pelajar lebih pantas kalo kamu mengisi kemerdekaan dengan belajar yang rajin, taat pada  guru, dan berbakti pada orang tua, itu sama saja dengan berjuang le..,”

Jawaban ibu membuat aku sedikit bisa menerima, dan lebih mengerti bagaimana mengisi kemerdekaan ini sesuai dengan bidangnya masing2.
sebagai pelajar tugasnya memang harus belajar, supaya bisa ikut andil dalam mencerdaskan bangsa. thx mom…atas pencerahanya

Akhirnya ucapan ibu saya tadi tertanam di dalam hati saya sampai sekarang, dan saya selalu teringat apabila hari proklamasi itu datang. ….

Semoga sekelumit cerita ini bisa menjadi sedikit inspirasi untuk anda semua….

dan kita bisa lebih memaknai arti kemerdekaan itu sendiri berdasarkan bidang kita masing-masing…..Hidup indonesia…merdeka negeriku…..

merdeka-mp

hut ri 64